Ospek dengan Bentakan, Salah atau Benar?

Bulan September adalah salah satu bulan yang menjadi waktu untuk masuknya mahasiswa baru ke Universitas masing-masing. Setelah berjuang di SNMPTN, SBMPTN, atau pun Mandiri di swasta maupun negeri akhirnya anak-anak yang baru saja lulus dari SMA ini memulai pendidikan yang baru yang cukup berbeda dengan yang sebelumnya.

Sebelum menjalani pembelajaran, para mahasiswa baru ini dibiasakan untuk menjalankan Orientasi Siswa atau pengenalan kampus oleh kakak tingkat kepada adik tingkatnya. Namun, ada beberapa berita tak mengenakkan akhir-akhir ini pasalnya orientasi siswa yang notabenenya sebagai ajang pengenalan ternyata menjadi ajang senioritas.

Pada beberapa waktu yang lalu, seorang mahasiswa baru dari salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Surabaya mendapatkan suatu perlakuan tidak mengenakkan dari para kakak tingkatnya karena tidak memakai ikat pinggang. Padahal menurut informasi dari Instagram resmi fakultas tersebut ikat pinggang bukan merupakan aksesoris yang wajib.

Tidak hanya itu saja, baru-baru ini ternyata muncul kembali kasus lain di salah satu Universitas di Bengkulu. Di dalam videonya terdapat seorang mahasiswa baru diperintahkan untuk memenuhi wajahnya dengan lipstik. Ada pandemi kali ini memang sema sektor tak terkecuali perkuliahan mengalami kelumpuhan. Pertemuan antar mahasiswa baru dengan dosen atau dengan kakak tingkat pun terhalang. Ospek atau Orientasi siswa dilakukan secara daring untuk menghindari terjadinya kontak fisik secara langsung. Namun hal ini tidak menghentikan beberapa oknum untuk tetap melakukan ospek dengan cara yang lumayan keras dan menuai pro dan kontra di masyarakat.

Hal ini dapat menjadi kritik masyarakat karena Ospek dilakukan secara Live yang menyebabkan banyak masyarakat menjadi tahu akan hal ini. Video ospek ini bahkan telah menyebar di berbagai media sosial baik Instagram, Twitter, Facebook, bahkan sampai pada media sosial pesan singkat yang sifatnya privat yaitu Whatsapp.

Para kakak tingkat ini mengaku semua yang dilakukan adalah untuk melatih mental mahasiswa baru. Bahkan tak sedikit pula mahasiswa baru yang merasa bahwa perploncoan ini sebagai salah satu pembelajaran untuk mental. Aakah pernyataan ini benar adanya?

Bentakan termasuk Kekerasan secara Verbal

Ospek dengan Bentakan, Salah atau Benar?

Menurut seorang Psikolog di Surakarta yaitu R.Yuli Budirahayu yang menjadi salah satu anggota di Jasa Psikolog Indonesia mengungkapkan bahwa bentakan merupakan salah satu kekerasan yang dilakukan secara verbal. Seperti yang diketahui bersama bahwa ada beberapa orang merasa pro dengan bentakan ini sebagai pelatihan mental yang terpenting tidak ada kekerasan di dalamnya.

Namun, seorang psikolog telah menjelaskan bahwa bentakan termasuk dalam kekerasan. Tentu hal ini menjadi perhatian banyak orang sebab video telah banyak diunggah dan menjadi salah satu bukti bahwa masih banyak kasus kekerasan di sekitar kita bahkan sesama mahasiswa.

Tidak Semua Orang Menerima Bentakan dengan Baik

Ospek dengan Bentakan

Menurut Yuli, semua orang memiliki kepribadian masing-masing. Ada anak yang tidak terbiasa dengan bentakan dan akhirnya menimbulkan suatu dampak yang sensitif seperti trauma atau malu. Seorang yang sering mendapatkan bentakan bisa mendapatkan masalah dalam melakukan interaksi dan juga psikososial-nya

Akan tetapi, Ada juga yang biasa saja setelah mendapatkan bentakan dan menganggapnya tidak terlalu serius sehingga tidak ada dampak yang serius dalam dirinya. Hal tersebut sangat terpengaruh ada kepribadian orang masing-masing dalam menyikapi bentakan tersebut.

Namun bentakan secara langsung memang memiliki dampak yang berbeda dengan sistem daring. Ada yang menganggap bentakan secara daring ini aman karena tidak bertemu secara langsung sehingga tidak terlalu dipikirkan.

Namun, ospek daring atau secara online ini juga harus dilakukan dengan sangat hati-hati karena pelaksanaannya tidak hanya terlihat dari panitia dan peserta ospek saja akan tetapi juga masyarakat secara luas. Seperti yang telah terjadi saat ini, video pun tersebar ke seluruh Indonesia bahkan dunia.

Hal ini sering membuat korban trauma dan malu apalagi saat ini video yang tersebar tanpa menggunakan sensor. Korban pastinya sangat malu ketika wajahnya dilihat oleh masyarakat umum walaupun sebenarnya masyarakat tidak bermasalah dengan itu akan tetapi fokus terhadap panitia yang membentak. Hal ini dibuktikan dengan korban yang saat ini menjalani terapi karena tekanan mental yang cukup kuat.

Sebaiknya Orientasi Siswa Dilaksanakan Sesuai dengan Tujuan

Orientasi siswa yang sebenarnya memiliki tujuan untuk mengenalkan kampus kepada mahasiswa seyogianya dilakukan dengan benar. Sebaiknya mahasiswa baru diberikan informasi secara lengkap mengenai kampus dan bagaimana sistem pembelajarannya sebab pelajaran di SMA dan kuliah akan sangat berbeda.

Senioritas antar mahasiswa sebaiknya segera dihilangkan karena hal ini kan membunuh karakter bangsa. Lebih baik ospek diwarnai dengan kegiatan yang bermanfaat. Menjalin komunikasi dan interaksi yang baik antar satu angkatan dengan angkatan lainnya sehingga terbentuk suatu kerja sama yang baik dan hal ini tentu akan lebih efektif.

Demikian penjelasan yang bisa anda simak, untuk informasi tentang berita lainnya dapat anda kunjungi langsung pengeluaran sgp di media online, pastinya anda akan mendapatkan berbagai penjelasan tentang pola hidup masyarakat sekitar yang perlu kita ketahui.